Terima Pembayaran
Integrasi Mandiri
Tanpa Integrasi
Penerimaan Dana
Wallet as a service
Layanan Tambahan


Pedagang kecil masih enggan memakai QRIS karena lima alasan utama: takut ribet atau gagap teknologi, khawatir kena pajak, merasa potongan biaya memberatkan, ragu soal keamanan, dan sudah terbiasa dengan uang tunai. Padahal sebagian besar kekhawatiran ini bisa diluruskan dengan fakta sederhana.
Kalau kamu termasuk yang masih ragu, itu wajar. Banyak pemilik warung dan toko kecil merasakan hal yang sama. Di artikel ini kita bahas satu per satu alasan tersebut dengan jujur — apa yang benar, apa yang sekadar mitos, dan kenapa makin banyak pedagang akhirnya beralih.
Terakhir diperbarui: Juni 2026 — mengacu pada ketentuan Bank Indonesia dan Direktorat Jenderal Pajak.
Kabar yang mungkin mengejutkan: justru kamu yang tertinggal kalau belum memakainya. Menurut Bank Indonesia, hingga 2025 jumlah merchant QRIS menembus lebih dari 40 juta dan sekitar 93% di antaranya adalah UMKM. Penggunanya pun sudah melewati 57 juta orang.
Artinya, mayoritas pesaing di sekitarmu kemungkinan besar sudah menerima QRIS. Pelanggan yang terbiasa membayar digital akan memilih toko yang menyediakannya. Bahkan Bank Indonesia menargetkan 45 juta merchant pada 2026 — tren ini tidak akan berbalik arah.
Ini kekhawatiran paling umum, terutama bagi pedagang generasi senior atau di daerah dengan literasi digital terbatas. Wajar — teknologi baru memang terasa menakutkan di awal.
Faktanya, memakai QRIS jauh lebih sederhana dari yang dibayangkan. Pelanggan tinggal memindai satu kode, lalu kamu menerima notifikasi pembayaran masuk. Tidak ada mesin rumit, tidak perlu menghitung kembalian. Setelah satu-dua hari, sebagian besar pedagang sudah terbiasa.
Gambaran betapa sederhananya alur sehari-hari:
Tidak ada langkah teknis yang perlu kamu hafal. Bahkan pedagang yang tidak terbiasa dengan aplikasi keuangan biasanya lancar setelah mencoba beberapa transaksi pertama.
Yang membuat ribet biasanya bukan QRIS-nya, tapi memilih penyedia yang tidak memberi panduan. Penyedia yang baik membantu proses pendaftaran sampai QR siap dipajang.
Inilah mitos yang paling sering bikin pedagang mundur. Faktanya, menurut Direktorat Jenderal Pajak, memakai QRIS tidak otomatis menambah pajak baru. QRIS hanyalah alat pembayaran — kewajiban pajak mengikuti aturan yang sama, baik transaksimu tunai maupun digital.
Artinya, kalau omzetmu memang belum mencapai ambang kena pajak, memakai QRIS tidak serta-merta membuatmu wajib membayar pajak. Yang berubah hanya satu: transaksimu jadi tercatat rapi, yang justru memudahkan saat butuh laporan keuangan atau mengajukan modal usaha.
Sebagai gambaran, bagi pelaku UMKM orang pribadi ada ambang peredaran bruto tertentu per tahun yang dibebaskan dari Pajak Penghasilan (PPh) final. Jadi banyak warung kecil sebenarnya belum tentu masuk kategori wajib membayar pajak hanya karena mulai menerima QRIS. Untuk kepastian sesuai kondisi usahamu, kamu bisa mengecek langsung ke kanal resmi Direktorat Jenderal Pajak.
Justru pencatatan dari QRIS memudahkanmu patuh pajak saat usahamu tumbuh besar nanti — tanpa perlu pusing merekap transaksi tunai yang sering tercecer.
Kekhawatiran soal potongan juga sangat manusiawi — margin pedagang kecil memang tipis. Tapi ada fakta penting yang sering terlewat.
Sesuai ketentuan Bank Indonesia, usaha mikro dibebaskan dari biaya MDR untuk transaksi sampai Rp500.000. Di atas itu, tarifnya hanya 0,3% untuk usaha mikro. Jadi untuk mayoritas transaksi warung sehari-hari, potongannya nol.
| Kategori | Nilai Transaksi | Potongan MDR |
| Usaha Mikro | ≤ Rp500.000 | 0% (gratis) |
| Usaha Mikro | > Rp500.000 | 0,3% |
Pelajari rinciannya di artikel skema potongan QRIS. Yang dilarang Bank Indonesia justru membebankan potongan ini ke pembeli.
Sempat ada kasus stiker QRIS palsu yang membuat sebagian pedagang waswas. Kekhawatiran ini valid, tapi mudah dicegah.
Dengan QR resmi dan kebiasaan mengecek notifikasi, risiko penipuan bisa ditekan hampir nol. Kalau ada kendala dana, panduan QRIS belum masuk bisa membantu.
Tidak. QRIS bukan pengganti tunai, melainkan tambahan opsi. Banyak pelanggan — terutama anak muda dan wisatawan — justru tidak lagi membawa uang fisik.
Dengan menerima QRIS, kamu tidak kehilangan penjualan hanya karena pembeli tidak pegang uang tunai. Tunai dan QRIS bisa berjalan bersama, memberi pelanggan kebebasan memilih.
Menunda bukan berarti aman — ada biaya tersembunyi dari tidak ikut beralih. Bayangkan seorang pembeli sudah memilih barang, lalu batal karena di dompetnya tidak ada uang tunai dan tokomu tidak menerima QRIS. Penjualan itu hilang, dan kemungkinan besar pindah ke toko sebelah.
Dalam jangka panjang, dampaknya menumpuk:
Keengganan hari ini bisa berubah menjadi pendapatan yang lari ke kompetitor setiap minggu. Itulah kenapa makin banyak pedagang akhirnya memilih ikut beralih.
Begitu kekhawatiran diluruskan, manfaatnya jauh lebih besar dari keraguannya:
| Kekhawatiran | Faktanya |
| QRIS ribet | Cukup satu kode, pelanggan yang memindai |
| Bikin kena pajak | QRIS tidak menambah pajak baru (DJP) |
| Potongan memberatkan | Mikro 0% untuk transaksi ≤ Rp500 ribu |
| Rawan penipuan | Aman dengan QR resmi & cek notifikasi |
| Harus tinggalkan tunai | QRIS hanya tambahan, tunai tetap jalan |
Keraguan terbesar pedagang kecil biasanya soal “ribet” dan “takut salah”. Di sinilah memilih penyedia yang membimbing membuat perbedaan.
Lewat Ezeelink, kamu bisa mulai menerima QRIS tanpa pusing:
Masih ragu? Hubungi tim Ezeelink untuk konsultasi gratis. Detail paket dan biaya layanan dijelaskan transparan saat pendaftaran.