QRIS dan Union Pay, Bekal Industri Pariwisata Indonesia Tumbuh Lebih Kuat di 2026
Memasuki tahun 2026, industri pariwisata Indonesia diproyeksikan kembali menggeliat dengan semangat baru. Data dari BPS menunjukkan bahwa pergerakan wisatawan domestik terus bertumbuh (misalnya naik 17,9% hingga Oktober 2025), Bahkan untuk tahun 2026 pemerintah melalui Kemenparekraf menargetkan hingga 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dengan target devisa mencapai 24,7 miliar dolar AS.
Namun Indonesia tidak lagi sekadar mengejar kuantitas kunjungan. Kemenparekraf juga terus berupaya menerapkan sustainable tourism menuju wisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Artinya, pelaku usaha wisata dituntut memberikan pengalaman bermutu (mulai dari paket tur kreatif, destinasi yang dikelola lebih baik, hingga layanan personal) agar wisatawan puas dan kembali lagi.
Tren Wisata 2026: Kualitas dan Digitalisasi

Wisatawan modern (terutama milenial dan Gen-Z) semakin mencari pengalaman yang personal dan bermakna. Mereka suka liburan keluarga singkat, staycation, serta destinasi unik dengan fasilitas digital memadai.
Oleh karena itu, pelaku usaha pariwisata (seperti tour guide, pemilik agen travel, atau UMKM di destinasi wisata) perlu memahami beberapa tren utama:
- Wisata berkelas dan personal: Fokus ke kualitas liburan (misalnya wisata budaya, relaksasi, atau aktivitas keluarga) lebih penting daripada sekadar jumlah perjalanan.
- Permintaan domestik kuat: Kunjungan wisatawan lokal juga diperkirakan terus naik di 2026, terutama di masa long weekend dan libur nasional.
- Digitalisasi pariwisata: Generasi digital-savvy yang melek teknologi dan serba digital akan mendominasi pasar, sehingga paket wisata dan destinasi harus menyertakan komponen teknologi, mulai dari pemasaran online hingga sistem pemesanan dan pembayaran digital.
Dengan memahami tren ini, pelaku usaha wisata dapat menyiapkan strategi yang tepat. Misalnya, siapkan paket yang cocok untuk keluarga atau grup kecil, manfaatkan platform online untuk promosi, dan siapkan konten menarik di media sosial agar menjangkau lebih banyak calon wisatawan.
QRIS Bisa Jadi “Game Changer”
Salah satu kunci sukses di era pariwisata 2026 adalah kemudahan transaksi digital. Wisatawan kini terbiasa transaksi cashless dan mengharapkan opsi transaksi praktis di area wisata. Disinilah teknologi QRIS memainkan peran penting. Dengan QRIS, semua dompet digital dan mobile banking Indonesia dapat dipakai untuk membayar merchant yang terdaftar.
Bahkan sekarang QRIS sudah bisa menerima pembayaran dari luar negeri lho. Ini dia keuntungan QRIS buat pelaku industri wisata di Indonesia:
- Gak Perlu EDC Mahal: Cukup satu kode QRIS, turis lokal maupun mancanegara dari Malaysia (DuitNow), Thailand (PromptPay), Singapura (NETS), dan Filipina bisa langsung bayar.
- Auto-Konversi: Kita akan langsung terima dalam Rupiah, konversinya akan diproses secara real-time.
- Pasar Asia Timur Makin Dekat: Kabar baiknya, per Agustus 2025, QRIS sudah mulai uji coba (sandbox) di Jepang dan Tiongkok. Bayangin potensi belanja turis Tiongkok yang jumlahnya jutaan itu masuk ke rekening kita cuma lewat satu kali klik.
UnionPay: Kunci Masuk ke Kantong Turis Kelas Atas
Kalau kamu mengincar turis dari Asia Timur seperti Tiongkok, Hong Kong, atau Korea Selatan, UnionPay adalah “senjata” wajib. Kenapa? Karena UnionPay punya basis pemegang kartu yang termasuk terbesar di dunia.
Di Indonesia sendiri, UnionPay sudah diterima di berbagai merchant lokal. Kalau website hotel atau agen wisata kita sudah bisa terima UnionPay Online, turis bakal jauh lebih pede buat booking karena mereka merasa aman dan sering dapat promo eksklusif yang diberikan oleh UnionPay.
Ini strategi soft selling yang oke banget: kita nggak perlu jualan ekstra keras, cukup pasang logo UnionPay di website, itu sudah jadi jaminan kenyamanan buat mereka.
Baca Juga: UnionPay, Kartu Pembayaran Global yang Wajib Dimiliki Usaha
Cara Praktis Implementasi di Bisnis Kamu

Agar tidak ketinggalan arus, pelaku usaha wisata harus mengintegrasikan sistem pembayaran digital di bisnis mereka. Gak perlu pusing soal teknis. Kamu bisa pakai jasa Layanan Payment Gateway yang sudah berlisensi Bank Indonesia seperti Ezeelink untuk melengkapi layanan transaksi digital untuk pelanggan.
Berikut langkah simpelnya:
- Pasang QRIS di tempat usaha: Daftarkan usaha Anda (warung makan, homestay, toko suvenir, dll.) ke penyedia QRIS berlisensi (BI). Setelah aktif, cukup tempelkan stiker QRIS di kasir atau gunakan QRIS dinamis melalui handphone. Wisatawan lokal dan internasional bisa scan dan bayar langsung tanpa repot.
- Gunakan Payment Link atau Gateway: Untuk penjualan online (tiket, paket wisata, merchandise), daftarkan layanan payment gateway tepercaya. Payment Link atau plugin e-commerce memungkinkan wisatawan membayar lewat tautan atau pada halaman checkout di website kamu. Nantinya pembayaran masuk otomatis ke rekening kamu.
- Aktifkan UnionPay: Pastikan website atau titik pembayaran Anda mendukung UnionPay. Ezeelink memungkinkan penerimaan pembayaran UnionPay langsung ke website usaha, sehingga kamu bisa menerima dana dalam Rupiah tanpa konversi rumit.
Langkah sederhana seperti di atas membuat usaha wisata kita lebih siap menyambut gelombang wisatawan 2026. Dengan QRIS dan transaksi digital yang mendukung antar negara, kita bias melayani pembayaran turis dari berbagai negara tanpa hambatan kurs. Tentunya ini memastikan bisnis pariwisata kita tetap relevan dan dipilih wisatawan internasional.
Kesimpulan
Tahun 2026 akan jadi tahun “Pariwisata Naik Kelas” dengan fokus pada pengalaman yang personal dan teknologi digital. Penekanan pada pengalaman berkualitas dan kemudahan layanan (termasuk pembayaran) akan memperkuat daya saing bisnis wisata.
Dengan menyediakan metode pembayaran QRIS dan UnionPay, kamu bukan cuma memudahkan transaksi, tapi juga meningkatkan branding bisnis kamu sebagai destinasi yang modern dan terpercaya.
Jadi, mumpung tren kunjungan lagi naik, yuk segera daftar QRIS di usahamu dan digitalkan sistem pembayaran kamu. Jangan sampai turis sudah depan mata, tapi batal belanja gara-gara metode pembayarannya ribet!
Sumber: Data dan wawasan di atas bersumber dari publikasi resmi pariwisata dan laporan ekonomi (Kemenparekraf, Bank Indonesia, BPS, media massa), serta berita pembayaran digital (UnionPay dan QRIS). Informasi ini diolah agar pelaku usaha wisata mudah memahami langkah ke depan.