Artikel

Kenali Potongan QRIS 2026 dan Tips Kelola Potongan agar Bisnis Tetap Untung

Ilustrasi potongan QRIS dan MDR untuk merchant UMKM

Potongan QRIS masih jadi perdebatan yang cukup panas antara pelanggan dan pemilik usaha. Tak jarang merchant membebankan biaya ini ke pembeli, padahal regulasinya sudah tegas melarang praktik tersebut. Kabar baiknya, Bank Indonesia sudah menetapkan besaran Merchant Discount Rate (MDR) yang dirancang agar tidak memberatkan pemilik usaha.

Supaya kamu tidak salah kaprah lagi, yuk kenali lebih dalam bagaimana sistem potongan QRIS ini bekerja, mulai dari MDR yang sudah ditetapkan BI, siapa yang wajib menanggungnya, hingga cara mengelolanya agar bisnis kamu tetap sehat secara finansial.

Jawaban singkat: potongan QRIS atau MDR tidak selalu 0,7%. Berdasarkan skema Bank Indonesia yang berlaku sejak 15 Maret 2025, UMI untuk transaksi sampai Rp500.000 dikenakan MDR 0%, UMI di atas Rp500.000 dikenakan 0,3%, UKE/UME/UBE 0,7%, pendidikan 0,6%, SPBU 0,4%, dan beberapa kategori tertentu 0%. MDR ditanggung merchant, bukan pembeli.

Terakhir diperbarui: 26 Mei 2026. Sumber dicek: Bank Indonesia dan referensi pajak DJP terkait QRIS.

Apa Itu Potongan QRIS?

Kalau kamu sudah terbiasa menerima pembayaran lewat QRIS, pasti pernah memperhatikan ada selisih kecil antara nominal yang dibayar pembeli dengan dana yang benar-benar masuk ke rekening kamu. Nah, selisih itulah yang dikenal sebagai potongan QRIS, atau dalam istilah resminya disebut Merchant Discount Rate (MDR).

Secara sederhana, MDR adalah biaya jasa yang dipotong dari setiap transaksi masuk sebagai kompensasi atas layanan operasional dan pemeliharaan infrastruktur sistem QRIS yang dikelola oleh Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP).

Seberapa besar potongannya? Jawabannya bergantung pada kategori merchant dan nominal transaksi. Misalnya, merchant kategori UKE menerima pembayaran Rp100.000 dengan tarif MDR 0,7%, maka potongannya Rp700 dan dana yang masuk menjadi Rp99.300. Namun untuk UMI dengan transaksi sampai Rp500.000, tarif MDR bisa 0% sesuai ketentuan BI. Jadi, sebelum menghitung margin, pastikan dulu kategori usaha dan skema MDR yang berlaku untuk tokomu.

Apa Itu MDR QRIS?

MDR QRIS adalah biaya layanan yang dikenakan kepada merchant oleh Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP) setiap kali ada transaksi masuk melalui sistem QRIS. Satu hal yang penting untuk kamu catat: Bank Indonesia sebagai regulator tidak mengambil bagian dari biaya MDR ini sama sekali.

Seluruh dana dari MDR diserahkan sepenuhnya kepada ekosistem industri pembayaran, yang terdiri dari lembaga issuer (penerbit), lembaga acquirer (penerima), lembaga switching, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dan Penyelesaian Transaksi Elektronik Nasional (PTEN).

Jadi pada dasarnya, biaya MDR adalah bentuk kompensasi bagi semua pihak yang bekerja di balik layar untuk memastikan setiap transaksi QRIS kamu berjalan cepat, aman, dan real-time. Kalau dipikir-pikir, infrastruktur digital sebesar itu memang butuh pembiayaan operasional yang tidak sedikit.

Berapa Potongan QRIS untuk Merchant?

Berdasarkan skema MDR QRIS Bank Indonesia, potongan QRIS untuk merchant tidak dibuat sama rata untuk semua kategori usaha. Tarifnya bergantung pada kategori merchant, nominal transaksi, dan jenis transaksi tertentu. Untuk layanan komersial seperti Ezeelink, detail biaya layanan atau paket yang berlaku tetap perlu dikonfirmasi saat pendaftaran agar perhitungan operasionalmu jelas sejak awal.

Kategori Merchant Tarif MDR QRIS Catatan
Usaha Mikro (UMI), transaksi sampai Rp500.000 0% Berlaku untuk transaksi UMI sesuai ketentuan BI
Usaha Mikro (UMI), transaksi di atas Rp500.000 0,3% Dihitung dari nilai transaksi
Usaha Kecil, Menengah, dan Besar (UKE/UME/UBE) 0,7% Tarif umum untuk kategori usaha tersebut
Pendidikan 0,6% Kategori khusus
SPBU 0,4% Kategori khusus
BLU, PSO, G2P/P2G, atau donasi sosial tertentu 0% Mengikuti ketentuan BI dan klasifikasi transaksi

Apakah Pembeli Boleh Dikenakan Biaya Tambahan?

Tidak boleh. Biaya MDR adalah tanggung jawab penuh merchant dan dilarang keras dibebankan kepada konsumen dalam bentuk apapun. Ketentuan ini sudah ditetapkan langsung oleh Bank Indonesia dan berlaku menyeluruh untuk semua kategori merchant di Indonesia, tanpa terkecuali.

Jadi kalau kamu pernah menemui toko yang menambahkan biaya ekstra saat pelanggan membayar lewat QRIS, itu adalah pelanggaran regulasi. Risikonya bukan hanya sanksi dari regulator, tapi juga kepercayaan pelanggan yang bisa langsung runtuh.

Apa Bedanya MDR QRIS dan Biaya Settlement?

Dua istilah ini memang sering muncul bersamaan dan kadang bikin bingung. Padahal keduanya punya fungsi dan waktu pengenaan yang berbeda.

MDR QRIS adalah potongan persentase yang langsung dipotong dari setiap transaksi masuk. Artinya, begitu ada pembayaran masuk lewat QRIS, potongan MDR sudah otomatis terjadi saat itu juga.

Sedangkan biaya settlement adalah biaya administrasi yang mungkin muncul ketika dana hasil transaksi dicairkan ke rekening tujuan. Biaya ini tidak sama dengan MDR dan bisa berbeda menurut PJP, rekening tujuan, metode pencairan, jadwal settlement, atau paket layanan yang kamu gunakan. Karena itu, jangan menganggap satu angka settlement sebagai tarif universal untuk semua bank.

Intinya begini, MDR itu potongan per transaksi masuk, settlement fee itu biaya saat kamu tarik dana keluar.

Bagaimana Simulasi Potongan QRIS untuk Transaksi Harian?

Supaya lebih mudah dibayangkan, berikut simulasi langsung yang bisa kamu terapkan pada skenario bisnis sehari-hari.

Simulasi 1: Transaksi Satuan

Misalnya ada pembeli yang belanja senilai Rp100.000 di toko kamu. Perhitungannya bisa berbeda tergantung kategori merchant.

Untuk Usaha Mikro (UMI), transaksi Rp100.000 – MDR 0%:

Komponen Rincian
Nilai Transaksi Rp100.000
Potongan QRIS Rp100.000 × 0% = Rp0
Dana yang Masuk ke Rekening Rp100.000

Untuk Usaha Mikro (UMI), transaksi Rp600.000 – MDR 0,3%:

Komponen Rincian
Nilai Transaksi Rp600.000
Potongan QRIS Rp600.000 × 0,3% = Rp1.800
Dana yang Masuk ke Rekening Rp598.200

Untuk Usaha Kecil (UKE), transaksi Rp100.000 – MDR 0,7%:

Komponen Rincian
Nilai Transaksi Rp100.000
Potongan QRIS Rp100.000 × 0,7% = Rp700
Dana yang Masuk ke Rekening Rp99.300

Simulasi 2: Akumulasi Transaksi Harian

Sekarang bayangkan omzet QRIS kamu dalam satu hari mencapai Rp2.000.000. Karena tarif UMI bergantung pada nominal per transaksi, simulasi harian perlu melihat komposisi transaksinya, bukan hanya total omzet.

Skenario Harian Tarif MDR Total Potongan Dana Bersih Diterima
UMI: 20 transaksi x Rp100.000 0% Rp0 Rp2.000.000
UMI: 3 transaksi x Rp600.000 0,3% Rp5.400 Rp1.794.600
UKE: 20 transaksi x Rp100.000 0,7% Rp14.000 Rp1.986.000

Dari simulasi ini, potongan harian memang terlihat kecil dibanding total omzet. Tapi karena tarifnya berbeda menurut kategori dan nominal transaksi, kamu tetap perlu memasukkannya ke struktur harga dan laporan keuangan agar margin tidak tergerus tanpa terasa.

Apakah Potongan QRIS BCA, BRI, atau Mandiri Bisa Berbeda?

Tarif dasar MDR QRIS mengacu pada ketentuan Bank Indonesia, jadi kategorinya bukan ditentukan semata-mata oleh nama bank rekening merchant. Namun pengalaman biaya total tetap bisa berbeda karena masing-masing PJP atau produk QRIS bisa punya jadwal settlement, fitur dashboard, metode pencairan, promo, dan biaya layanan tambahan yang berbeda.

Jadi, saat membandingkan potongan QRIS BCA, potongan QRIS BRI, Mandiri, atau penyedia lain, jangan hanya melihat angka MDR. Cek juga biaya settlement, jadwal pencairan, rekening tujuan, laporan transaksi, dan dukungan operasional yang kamu dapatkan.

Jadi kalau kamu sedang menimbang mana rekening yang paling efisien untuk bisnis, pertimbangkan juga frekuensi dan nominal pencairan dana yang biasa kamu lakukan, ya.

Tips Mengelola Biaya QRIS agar Margin Bisnis Tetap Untung

Potongan QRIS memang kecil, tapi tanpa pengelolaan yang tepat, dampaknya pada margin bisa menumpuk tanpa kamu sadari. Ada beberapa langkah praktis yang bisa langsung kamu terapkan untuk menjaga profitabilitas bisnis tetap stabil, di antaranya:

Masukkan Biaya MDR ke Harga Jual Sejak Awal

Menambahkan biaya ekstra secara langsung ke pelanggan saat mereka scan QRIS adalah pelanggaran regulasi yang berisiko tinggi, baik secara hukum maupun reputasi bisnis. Cara yang lebih baik dan sah adalah dengan memasukkan komponen biaya MDR ke dalam Harga Pokok Penjualan (HPP) sejak kamu menetapkan harga jual produk.

Misalnya, kalau margin produk kamu biasanya 20% dan tarif MDR-nya 0,7%, kamu bisa menyesuaikan harga jual dengan melakukan pembulatan ke atas. Contoh konkretnya: dari harga Rp14.800 menjadi Rp15.000. Selisih Rp200 dari pembulatan itu sudah lebih dari cukup untuk menutup biaya MDR, dan pelanggan pun tidak merasa dibebani karena memilih bayar non-tunai.

Dorong Upselling untuk Meringankan Beban per Transaksi

Biaya MDR akan terasa lebih berat kalau nilai transaksinya kecil-kecil. Sebaliknya, semakin besar nilai belanja per transaksi, semakin ringan proporsi MDR dibanding profit yang kamu terima.

Kamu bisa mendorong pelanggan untuk menambah nilai belanjaannya lewat paket bundling produk atau menetapkan syarat minimal pembelian untuk mendapat promo tertentu. Strategi ini membantu menaikkan rata-rata nilai transaksi per scan QRIS dan pada saat yang sama mengoptimalkan margin bersih yang masuk ke kantong kamu.

Atur Jadwal Settlement Secara Efisien

Setiap kali kamu menarik dana, ada kemungkinan dikenakan biaya settlement. Kalau kamu melakukan pencairan terlalu sering tanpa memperhitungkan biayanya, biaya admin ini bisa menumpuk dan menggerus keuntungan secara diam-diam.

Atur jadwal penarikan secara berkala, misalnya sekali sehari atau dua hari sekali agar cash flow tetap terjaga tanpa harus membayar biaya admin berulang kali dalam satu hari. Banyak PJP juga menyediakan fitur auto-settlement yang bisa kamu aktifkan untuk mengotomatiskan proses ini, sehingga kamu tidak perlu repot mengaturnya secara manual setiap hari.

Baca juga: Keuntungan QRIS Same Day yang Jarang Disadari Pebisnis

Sudah Paham Potongan QRIS? Saatnya Pilih Platform yang Tepat untuk Bisnismu

Layanan QRIS Ezeelink dengan MDR transparan untuk bisnis

Potongan QRIS sejatinya bukan hal yang perlu ditakuti. Selama kamu memahami cara kerjanya dan menyusun strategi harga dengan cermat, MDR tidak akan jadi beban yang berarti bagi bisnis kamu. Dan sekali lagi, biaya ini adalah tanggung jawab merchant, bukan pelanggan. Jangan sampai kesalahpahaman soal potongan QRIS merusak hubungan kamu dengan pembeli setia.

Kalau kamu belum menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran di usaha kamu, Ezeelink hadir sebagai pilihan yang layak kamu pertimbangkan. Ezeelink menawarkan sistem pembayaran QRIS yang membantu transaksi tercatat lebih rapi, mudah dipantau, dan lebih jelas dari sisi operasional. Untuk detail biaya, settlement, dan fitur yang sesuai dengan kebutuhan bisnismu, pastikan semuanya dikonfirmasi saat konsultasi atau pendaftaran.

Masih punya pertanyaan atau ingin langsung coba? Hubungi tim Ezeelink sekarang untuk konsultasi atau ajukan permohonan penggunaan layanan. Tim kami siap membantu bisnis kamu bertumbuh dengan sistem pembayaran yang efisien, aman, dan sesuai regulasi.

FAQ

QRIS kena biaya berapa?
Biaya QRIS atau MDR tidak selalu 0,7%. Berdasarkan skema BI, UMI untuk transaksi sampai Rp500.000 dikenakan 0%, UMI di atas Rp500.000 dikenakan 0,3%, UKE/UME/UBE 0,7%, pendidikan 0,6%, SPBU 0,4%, dan kategori tertentu seperti BLU/PSO/G2P/P2G atau donasi sosial tertentu bisa 0% sesuai ketentuan.
Potongan QRIS BCA berapa?
Potongan QRIS BCA tetap mengacu pada skema MDR QRIS yang ditetapkan BI berdasarkan kategori merchant dan nominal transaksi. Yang bisa berbeda adalah fitur dan ketentuan layanan, seperti jadwal settlement, rekening tujuan, metode pencairan, atau biaya layanan dari produk QRIS yang digunakan. Selalu cek dashboard atau ketentuan resmi penyedia sebelum menghitung biaya operasional.
Adakah potongan QRIS?
Ada transaksi QRIS yang dikenakan MDR, tetapi besarannya bergantung pada kategori merchant, nominal transaksi, dan jenis transaksi. Beberapa transaksi/kategori bisa dikenakan MDR 0%. Potongan MDR ditanggung merchant, bukan pembeli, dan BI sebagai regulator tidak mengambil bagian dari biaya MDR tersebut.
Berapa persen pajak QRIS?
QRIS sebagai metode bayar tidak otomatis membuat pembeli kena pajak tambahan. Namun jasa sistem pembayaran dapat dikenakan PPN atas MDR atau service fee yang dipungut PJP kepada merchant. Kewajiban pajak atas penjualan tetap mengikuti aturan pajak usaha masing-masing.
Apakah biaya QRIS dibebankan ke pembeli?
Tidak. Berdasarkan regulasi Bank Indonesia, biaya QRIS atau MDR sepenuhnya menjadi tanggung jawab merchant dan dilarang dibebankan kepada pembeli dalam bentuk apapun. Kalau ada toko yang menambahkan biaya ekstra saat kamu bayar pakai QRIS, itu melanggar aturan yang berlaku.
Konsultasi Kebutuhan Bisnis Anda Gratis
Dapatkan saran personalisasi untuk kebutuhan bisnis Anda