Blog

QRIS untuk Event: SOP Cashless Multi-Booth & Rekonsiliasi

Cover QRIS untuk event menampilkan transaksi di booth festival; fokus pada verifikasi pembayaran dan rekonsiliasi multi-bo.

Jawaban singkat: Event dan festival dapat menerima pembayaran QRIS dengan mendaftar sebagai merchant melalui PJP (Penyelenggara Jasa Pembayaran) berizin Bank Indonesia dan melengkapi dokumen usaha yang diperlukan. QRIS dapat digunakan untuk F&B, tiket masuk, merchandise, hingga transaksi di banyak booth sekaligus dalam satu event (multi-booth). Rujukan: Bank Indonesia.

Tantangan QRIS multi-booth meliputi koneksi venue, identitas merchant, pemilik dana, dan pencatatan per tenant. Sebelum event, tentukan apakah pembayaran dikelola oleh masing-masing tenant atau melalui skema terpusat yang disetujui PJP. Panduan ini membantu menata data booth, menguji pembayaran, menangani status belum jelas, dan mencocokkan laporan tanpa menganggap seluruh dana otomatis masuk ke satu rekening penyelenggara.

Ringkasan cepat

  • Tentukan pemilik merchant, pemilik dana, kode booth, serta PIC sebelum event dimulai.
  • Uji QR, nama merchant, nominal, koneksi, dan bukti transaksi sebelum pintu dibuka.
  • Saat pending, telusuri pembayaran awal dan siapkan meja bantuan; jangan langsung meminta bayar ulang.
  • Cocokkan rekap booth, laporan merchant, dan pencairan tenant pada periode yang sama.

Mengapa Event Membutuhkan SOP QRIS Multi-Booth?

Event dan festival dengan puluhan hingga ratusan booth menghadapi kompleksitas transaksi yang jauh berbeda dari toko tunggal. Tanpa SOP yang jelas, penyelenggara berisiko kehilangan kendali atas arus dana, terutama karena setiap booth berpotensi terdaftar sebagai sub-merchant terpisah dengan alur pencairan dana masing-masing.

Risiko operasional yang perlu diuji antara lain salah nominal, QR yang tertukar antar-booth, bukti pembayaran yang tidak cocok dengan laporan, dan kebingungan saat status belum jelas. SOP membuat petugas mengetahui apa yang harus diperiksa dan siapa yang harus dihubungi ketika masalah muncul.

SOP membantu tim memeriksa pendaftaran merchant melalui PJP berizin, kelengkapan dokumen, identitas QR tiap booth, dan penerima dana. Skema sub-merchant digunakan hanya bila layanan mendukungnya. Setelah pendaftaran, lakukan uji pembayaran serta pencatatan laporan agar pemetaan booth tidak berhenti pada daftar administratif.

Manfaat SOP bagi Penyelenggara dan Tenant

Secara kelembagaan, penyelenggara yang menerapkan SOP terstandarisasi menunjukkan kredibilitas di mata sponsor, tenant, dan otoritas pembayaran sehingga bisa mengurangi risiko sengketa dana pasca-event.

Dari sisi kepercayaan, transparansi rekonsiliasi harian dan mekanisme kontrol kesalahan nominal memberi rasa aman baik bagi tenant kecil/UMKM yang mengandalkan omzet event tersebut, maupun bagi pengunjung yang bertransaksi.

Singkatnya, SOP QRIS multi-booth bukan sekadar dokumen administratif, melainkan fondasi operasional yang melindungi arus kas event, mempercepat penanganan masalah teknis, dan menjaga kepercayaan semua pihak yang terlibat mulai dari penyelenggara, tenant, hingga pengunjung.

Desain Struktur Booth dan Pemilik QR

Sebelum acara berlangsung, penyelenggara perlu merancang struktur data yang menghubungkan setiap booth dengan QRIS dan penanggung jawabnya masing-masing. Struktur ini menjadi dasar untuk rekonsiliasi, pelacakan transaksi, dan penyelesaian masalah jika terjadi kesalahan nominal atau sengketa dana.

Baca juga: cara menyiapkan QRIS untuk usaha.

Label Booth, Tenant, dan PIC

Setiap booth idealnya memiliki identitas unik yang tercatat dalam satu sistem terpusat, mencakup:

  • Kode Booth — pengenal unik (misalnya A-01, F&B-05, MERCH-15) yang konsisten dipakai di denah lokasi, daftar tenant, dan sistem pembayaran, agar mudah dilacak saat rekonsiliasi.
  • Nama Tenant/Usaha — nama resmi bisnis atau merchant yang menyewa booth, sesuai dengan dokumen pendaftaran merchant ke PJP.
  • Merchant ID atau identitas QRIS — hubungkan kode booth dengan akun merchant dan penerima dana yang disetujui. Jika memakai skema tenant mandiri, pencairan mengikuti akun masing-masing. Skema sub-merchant atau terpusat hanya digunakan bila didukung PJP dan pembagian tanggung jawabnya tertulis.
  • PIC Booth (Person in Charge) — nama dan nomor kontak petugas yang bertanggung jawab di lokasi, termasuk kontak cadangan bila PIC utama berhalangan saat jam sibuk.
  • Kategori Booth — F&B, merchandise, tiket, jasa, dll., untuk memudahkan pelaporan omzet per kategori.
  • Status Verifikasi — menandai apakah dokumen QRIS tenant sudah lengkap dan aktif sebelum hari-H, untuk menghindari booth yang belum siap menerima pembayaran cashless.

Sebaiknya: simpan seluruh data ini dalam satu spreadsheet atau dashboard terpusat yang bisa diakses tim keuangan dan tim lapangan secara real-time, sehingga saat terjadi keluhan pengunjung ("saya sudah bayar tapi tidak masuk") atau selisih rekonsiliasi, tim dapat langsung menelusuri berdasarkan kode booth dan PIC yang bertanggung jawab, tanpa perlu mencari manual satu per satu.

Penerima dana mengikuti akun merchant dan skema yang disepakati, bukan otomatis seluruhnya masuk ke penyelenggara. Dua pilihan berikut perlu diputuskan sebelum booth menerima pembayaran.

Dua skema pembayaran event: QR sesuai akun tenant dan pengelolaan terpusat dengan persetujuan PJP serta aturan pembagian d.
Gambar 1. Perbandingan merchant milik tenant dan skema terpusat yang disetujui PJP; pemilik dana serta ketentuan pembagian harus jelas. Ilustrasi Ezeelink.

Pilih QR Statis atau Dinamis untuk Event

Pemilihan jenis QRIS berpengaruh langsung pada kecepatan transaksi dan tingkat kontrol yang dimiliki penyelenggara terhadap setiap booth. Berikut perbandingan dan rekomendasi penggunaannya untuk event multi-booth.

Baca juga: perbedaan QRIS statis dan dinamis.

QR Statis

QR statis adalah satu kode QR tetap yang dicetak dan ditempel di booth, di mana pembeli sendiri yang menginput nominal pembayaran saat scan.

Kelebihan:

  • Biaya cetak murah, cukup sekali print untuk seluruh durasi event.
  • Tidak butuh perangkat tambahan (printer struk/EDC) di booth, cocok untuk tenant kecil/UMKM.
  • Instalasi cepat, cukup tempel dan pastikan tidak rusak/basah.

Kekurangan:

  • Rawan human error karena pembeli mengisi nominal manual (salah ketik jumlah nol, misalnya).
  • Sulit dilacak otomatis mana transaksi untuk item apa jika booth menjual banyak produk dengan harga berbeda.
  • Berisiko disalahgunakan bila QR dicetak ulang/ditempel pihak tidak bertanggung jawab (QR palsu menimpa QR asli).

QR Dinamis

QR dinamis dibuat merchant melalui aplikasi atau perangkat yang mendukung, dengan nominal untuk transaksi tertentu. Jika belum terintegrasi ke POS, petugas tetap menyiapkan dan memeriksa nominal sesuai pesanan.

Kelebihan:

  • Nominal dibuat oleh merchant sehingga pembeli tidak perlu mengetik jumlah. Petugas tetap memeriksa harga dan pesanan sebelum membuat QR.
  • Jika terintegrasi dengan kasir, QR dinamis dapat membantu menghubungkan pembayaran dan pesanan. Ketersediaan integrasi perlu dikonfirmasi dan diuji.
  • QR berubah untuk transaksi tertentu; bila layanan menyediakan masa berlaku, ikuti ketentuannya. Petugas dan pembeli tetap memeriksa identitas merchant serta tagihan karena perubahan QR bukan jaminan bebas penipuan.

Kekurangan:

  • Butuh perangkat (HP/tablet/EDC) dan aplikasi kasir yang terhubung internet di tiap booth.
  • Biaya operasional/perangkat lebih tinggi, kurang praktis untuk tenant sangat kecil atau booth dadakan.
  • Bergantung penuh pada koneksi internet stabil di lokasi.

Rekomendasi untuk Event Multi-Booth

Situasi Jenis QR yang disarankan
Booth F&B dengan menu harga bervariasi, transaksi tinggi Dinamis
Booth dengan nominal tetap yang ingin menghindari input pembeli Dinamis; statis bila nominal diperiksa manual
Tenant UMKM kecil, budget terbatas Statis (dengan kontrol tambahan)
Event besar dengan sistem kasir terpusat Dinamis

Untuk QRIS statis, pembeli memasukkan nominal dan petugas mencocokkannya dengan tagihan. QRIS dinamis dibuat merchant untuk transaksi tertentu; nominal tetap di daftar harga tidak otomatis membuat QR statis terisi.

Dua booth membandingkan QRIS statis dengan input pembeli dan QRIS dinamis dengan nominal yang dibuat merchant.
Gambar 2. Perbedaan QRIS statis dan dinamis untuk booth event, termasuk pihak yang memasukkan nominal dan kebutuhan perangkat pendukung. Ilustrasi Ezeelink.

Checklist Uji Sebelum Pintu Dibuka

Sebelum pengunjung diizinkan masuk, seluruh booth wajib melalui tahap uji coba (testing) sistem pembayaran QRIS. Tahap ini krusial untuk mencegah masalah yang baru terdeteksi saat transaksi sungguhan sedang berlangsung, ketika antrean sudah mengular dan tidak ada waktu untuk troubleshooting.

Nominal, Nama Merchant, Sinyal, dan Struk

1. Uji Nominal

  • Lakukan transaksi percobaan dengan nominal kecil (misalnya Rp1.000–5.000) di setiap booth.
  • Pastikan nominal yang tertera di layar pembeli sama persis dengan nominal yang diinput/dimaksud kasir.
  • Untuk QR statis: cek apakah nominal manual mudah salah ketik pada tampilan aplikasi pembayaran yang umum dipakai pengunjung.
  • Catat hasil uji nominal per booth (berhasil/gagal) sebagai bukti kesiapan.

2. Verifikasi Nama Merchant

  • Pastikan nama yang tampil sesuai identitas merchant dan skema yang didaftarkan. Dalam skema tenant mandiri, cocokkan dengan tenant; pada skema terpusat yang disetujui, informasikan nama merchant penyelenggara kepada pengunjung.
  • Jika nama merchant tidak sesuai, hentikan penggunaan QR tersebut dan laporkan ke PIC teknis sebelum pintu dibuka; ini indikasi kemungkinan salah pasang QR atau QR bukan milik booth tersebut.
  • Cocokkan nama merchant dengan data di struktur booth dan pemilik QR yang sudah didaftarkan.

3. Uji Sinyal/Koneksi

  • Tes kekuatan sinyal internet di titik pemasangan QR/perangkat kasir, terutama di sudut venue atau area yang biasanya minim sinyal (dekat panggung besar, basement, tenda tertutup).
  • Siapkan solusi cadangan (WiFi portable, SIM card event, atau hotspot) untuk booth dengan sinyal lemah.
  • Uji ulang pada jam mendekati pembukaan, karena sinyal bisa berubah seiring bertambahnya jumlah pengunjung dan perangkat yang terhubung di area yang sama.

4. Verifikasi Struk/Notifikasi Pembayaran

  • Periksa kejelasan struk fisik atau notifikasi digital serta identitas merchantnya. Jika sistem belum menampilkan kode booth, catat pemetaan merchant dan Reference ID pada rekap booth agar transaksi tetap bisa ditelusuri.
  • Cocokkan transaksi uji dengan riwayat pada sistem merchant. Pemeriksaan dana cair dilakukan terpisah menurut jadwal pencairan PJP.
  • Simpan bukti struk uji sebagai baseline pembanding jika nanti ada kejanggalan pencocokan struk saat event berlangsung.

Ketentuan pelaksanaan:

  • Checklist ini idealnya dijalankan H-1 malam dan diulang pagi hari sebelum pintu dibuka (mengingat koneksi/listrik bisa berubah semalaman).
  • Setiap booth hanya boleh mulai beroperasi setelah PIC teknis membubuhkan tanda "lolos uji" pada keempat poin di atas.
  • Booth yang gagal salah satu poin wajib diperbaiki dan diuji ulang sebelum diizinkan menerima transaksi dari pengunjung.

Uji pembayaran dilakukan di setiap booth sebelum pengunjung masuk. Simpan hasil uji dan PIC penanganannya; booth dengan nama merchant, nominal, atau koneksi bermasalah perlu diperbaiki lalu diuji ulang.

Empat panel uji QRIS event memeriksa nama merchant, nominal, koneksi lokasi, dan bukti transaksi beserta PIC.
Gambar 3. Empat pemeriksaan sebelum event dibuka: nama merchant, nominal, koneksi pada titik booth, serta bukti transaksi dan PIC. Ilustrasi Ezeelink.

Fallback Saat Koneksi atau Perangkat Bermasalah

Sebaik apapun uji coba dilakukan, gangguan koneksi atau perangkat tetap bisa terjadi saat event berlangsung, terutama saat jam padat ketika ribuan perangkat terhubung ke jaringan yang sama. SOP fallback yang jelas mencegah booth berhenti total dan menjaga pengalaman pengunjung tetap baik.

Baca juga: penanganan notifikasi QRIS yang belum muncul.

Pending, Antrean, dan Eskalasi

1. Penanganan Transaksi Pending

  • Jika transaksi berstatus pending, jangan langsung menganggap berhasil atau gagal. Petugas memeriksa riwayat pada sisi merchant dan mengikuti petunjuk PJP sebelum menutup transaksi.
  • Minta pembeli menunjukkan bukti pembayaran dari aplikasinya (mutasi keluar), sambil petugas mengecek dashboard/notifikasi masuk secara paralel.
  • Jika status tetap belum jelas, catat Reference ID bila tersedia, nominal, waktu, serta kode booth. Eskalasikan ke PIC dan kanal resmi PJP; jangan membatalkan atau meminta pembayaran ulang berdasarkan dugaan.
  • Sediakan kartu/nomor antrean khusus "transaksi bermasalah" agar pembeli tidak perlu menunggu di tempat sambil menghambat antrean booth.

2. Manajemen Antrean Saat Gangguan

  • Siapkan jalur antrean cadangan (metode pembayaran alternatif — tunai atau EDC kartu) yang bisa segera diaktifkan jika QRIS di satu booth gagal total, agar antrean tidak menumpuk.
  • Tempatkan papan pemberitahuan sementara ("Pembayaran QRIS di booth ini sedang gangguan, mohon gunakan tunai") agar pengunjung tidak bingung dan tidak menyalahkan tenant.
  • Untuk booth dengan volume transaksi tinggi, pertimbangkan menyiapkan 2 metode penerimaan pembayaran sejak awal agar tidak bergantung 100% pada satu sistem.

3. Jalur Eskalasi

  • Tetapkan struktur eskalasi berjenjang yang jelas dan diketahui semua PIC booth, misalnya:
  • PIC Booth → mencoba troubleshooting dasar (restart aplikasi, cek sinyal, ganti perangkat cadangan).
  • Tim Teknis Lapangan → menangani masalah koneksi atau perangkat sesuai target respons internal event. Target ini adalah SOP tim, bukan janji penyelesaian transaksi oleh PJP.
  • Koordinator Keuangan/PJP → dihubungi untuk masalah sistemik (bukan hanya satu booth, tapi banyak booth bermasalah bersamaan) atau dugaan kegagalan dari sisi penyedia jasa pembayaran.
  • Sediakan nomor kontak darurat tim teknis dan tim keuangan yang tercetak/tertempel di setiap booth, bukan hanya di panduan internal.
  • Catat setiap insiden (waktu, booth, jenis masalah, waktu penyelesaian) dalam log terpusat untuk evaluasi pasca-event dan bahan perbaikan SOP event berikutnya.

Prinsip fallback: beri pengunjung informasi yang jelas, pisahkan antrean bantuan dari transaksi baru bila memungkinkan, dan cegah pembayaran ganda. Metode cadangan digunakan dengan tetap menelusuri transaksi awal yang belum selesai.

Ketika pembayaran pending, arahkan pemeriksaan ke petugas bantuan agar antrean tidak menumpuk. Metode cadangan tidak menghapus kewajiban menelusuri transaksi awal dan mencegah pembayaran ganda.

Empat langkah penanganan pending serta jalur antrean menuju meja bantuan tanpa langsung mengulang pembayaran.
Gambar 4. Alur penanganan transaksi pending pada event: cek kedua sisi, simpan bukti, hubungi PIC/PJP, dan cegah pembayaran ganda. Data merupakan contoh. Ilustrasi Ezeelink.

Bagaimana Mencocokkan Laporan QRIS per Booth?

Rekonsiliasi per booth menghubungkan penjualan, transaksi merchant, dan pencairan kepada pihak yang berhak. Kode booth, identitas merchant, periode laporan, dan Reference ID membantu tim menelusuri selisih tanpa hanya membandingkan total event.

Alur Rekonsiliasi Harian

1. Penutupan Transaksi per Booth (End of Day)

  • Setiap PIC booth wajib menutup sesi transaksi pada jam yang sama setiap hari dan mencetak/mengekspor ringkasan transaksi (jumlah transaksi, total nominal) dari aplikasi kasir atau dashboard QRIS.
  • Ringkasan booth menjadi pembanding awal untuk laporan transaksi merchant pada periode yang sama. Pencairan ke rekening diperiksa terpisah sesuai skema penerima dana dan jadwal PJP.

2. Pencocokan dengan Mutasi Masuk

  • Tim keuangan memakai laporan yang tersedia dan diizinkan bagi masing-masing merchant atau skema terpusat. Cocokkan kode booth, jumlah transaksi, nominal, status, waktu, dan Reference ID dengan rekap kasir.
  • Fokus pencocokan: jumlah transaksi, total nominal, dan waktu transaksi — bukan hanya total akhir, karena dua angka total yang sama bisa menyembunyikan selisih transaksi individu yang saling menutupi.
  • Gunakan kode booth sebagai kunci pencarian, sesuai struktur data yang sudah dirancang di tahap desain booth.

3. Penanganan Selisih

  • Jika ditemukan selisih, telusuri berdasarkan log insiden dari fallback (transaksi pending yang belum terselesaikan adalah penyebab paling umum).
  • Selisih yang belum jelas penyebabnya dicatat sebagai "pending investigasi" dengan tenggat penyelesaian maksimal, bukan dibiarkan menumpuk sampai akhir event.
  • Informasikan status rekonsiliasi ke tenant setiap hari (misalnya lewat grup komunikasi khusus tenant) agar tidak ada kecurigaan dana "hilang" tanpa penjelasan.

4. Laporan Harian ke Tenant dan Manajemen

  • Susun laporan ringkas per hari: total omzet per booth, status settlement (sudah cair/masih diproses), dan daftar insiden yang masih terbuka.
  • Laporan ini menjadi dasar transparansi sekaligus dokumentasi jika terjadi sengketa dana pasca-event.
Sumber data Yang dicocokkan Penanggung jawab
Rekap booth Kode booth, pesanan, nominal, periode PIC booth/tenant
Laporan merchant Status, waktu, Reference ID, akun penerima Pemilik merchant/finance berwenang
Pencairan tenant Biaya, dana bersih, jadwal pembagian Finance sesuai skema event
Catatan kasus Pending, ganda, selisih, bukti penanganan PIC bantuan; diteruskan antar-shift

Pencocokan harus dilakukan per booth agar selisih tidak tertutup oleh total event. Pisahkan transaksi berhasil, pembayaran yang belum jelas, dan dana yang belum dicairkan sesuai ketentuan masing-masing akun merchant.

Tiga sumber rekonsiliasi event beserta kategori hasil sesuai, selisih, dan belum cair.
Gambar 5. Pencocokan rekap booth, laporan merchant, dan pencairan tenant; status sesuai, selisih, dan belum cair dibedakan. Ilustrasi Ezeelink.

Settlement dan Rekonsiliasi per Tenant

Settlement adalah tahap pencairan dana dari PJP ke rekening tenant, dan menjadi titik yang paling sensitif secara finansial dalam event multi-booth, keterlambatan atau kesalahan di tahap ini langsung berdampak pada arus kas tenant, terutama UMKM yang mengandalkan omzet event untuk modal operasional hari berikutnya.

Baca juga: cara membaca laporan transaksi QRIS merchant.

Laporan Booth, Shift, dan Selisih

1. Laporan Booth per Tenant

  • Sepakati laporan untuk tiap tenant yang mencakup transaksi, nominal kotor, biaya sesuai perjanjian, dana bersih, dan jadwal pencairan. Laporan disusun dari data yang tersedia dalam skema merchant yang digunakan, bukan diasumsikan otomatis ada.
  • Pisahkan laporan berdasarkan kode booth dan identitas merchant yang digunakan. Jika skema mendukung sub-merchant ID, gunakan identitas tersebut; jika tidak, tetapkan pemetaan yang dapat ditelusuri tanpa menggabungkan data tenant berbeda.
  • Sertakan waktu estimasi pencairan (H+0, H+1, atau sesuai skema PJP yang dipakai) agar tenant tidak menerka-nerka kapan dana masuk.

2. Rekonsiliasi per Shift

  • Untuk event multi-hari atau booth dengan pergantian petugas (shift pagi/siang/malam), lakukan penutupan dan pencatatan transaksi di setiap pergantian shift, bukan hanya di akhir hari.
  • Setiap shift memiliki penanggung jawab yang menandatangani/mengonfirmasi ringkasan transaksi sebelum serah terima ke shift berikutnya — ini mempersempit jendela waktu jika terjadi selisih, karena bisa langsung ditelusuri ke shift dan PIC yang bertanggung jawab.
  • Data per shift kemudian digabung menjadi laporan harian penuh saat rekonsiliasi end of day.

3. Penanganan Selisih Saat Settlement

  • Bandingkan nominal yang tertera di sistem (setelah potongan biaya) dengan nominal yang benar-benar masuk ke rekening tenant; selisih di tahap ini bisa disebabkan oleh biaya tambahan yang belum diinformasikan atau kesalahan sistem PJP.
  • Jika dana belum cair sesuai jadwal, hubungi kanal resmi PJP melalui pihak yang memiliki kewenangan atas akun merchant. Tim event membantu mengumpulkan bukti dan kode booth untuk penelusuran.
  • Dokumentasikan setiap kasus selisih settlement dengan bukti (screenshot dashboard, nomor referensi transaksi) sebagai dasar klaim ke PJP maupun bahan pertanggungjawaban ke tenant.

4. Transparansi ke Tenant

  • Sediakan laporan berkala atau akses dashboard yang memang didukung layanan dan disetujui pemilik merchant. Batasi akses sesuai peran agar data antar-tenant tidak dibagikan tanpa kebutuhan.
  • Untuk event multi-hari, pertimbangkan opsi pencairan bertahap per hari (bukan digabung di akhir event) agar tenant kecil tetap memiliki arus kas selama event berlangsung.

Butuh Sistem Cashless yang Siap untuk Event Anda?

Mengelola pembayaran di banyak booth, mencocokkan laporan, dan menangani transaksi bermasalah dapat menyita waktu tim event. SOP dan sistem pendukung yang sesuai membantu mengurangi salah pencatatan. Sebelum event berikutnya, pastikan Anda:

  • Baca juga: solusi QRIS Ezeelink.
  • Memilih PJP dan skema pembayaran yang sesuai skala event Anda.
  • Menyiapkan SOP tertulis yang dipahami seluruh PIC booth, bukan hanya tim inti.
  • Menguji seluruh sistem H-1 dan pagi hari sebelum pintu dibuka.

Konsultasikan kebutuhan QRIS untuk event dan festival ke Ezeelink, sekarang!

Merchant menyiapkan laporan dan rekonsiliasi QRIS melalui kanal resmi.
Daftar QRIS Ezeelink dan mulai terima pembayaran dari bank dan e-wallet.

Referensi

FAQ QRIS untuk Event dan Festival

Apakah setiap booth harus menggunakan QRIS sendiri?

Pilihan mengikuti kepemilikan merchant dan skema event yang disetujui PJP. Pada merchant tenant mandiri, pembayaran mengikuti akun tenant. Skema terpusat memerlukan identitas penerima dana, pencatatan booth, dan aturan pembagian yang jelas. Jangan menganggap fitur sub-merchant atau satu QR otomatis memisahkan omzet. Uji nama merchant serta laporan setiap booth sebelum event, lalu sampaikan skema penerimaan dana kepada tenant secara tertulis.

Kapan pendaftaran QRIS tenant sebaiknya dilakukan?

Mulai sebelum event dengan waktu cukup untuk verifikasi, penerbitan QR, pelatihan, dan uji di booth. Durasi pendaftaran bergantung pada PJP, jenis merchant, dan kelengkapan dokumen; jangan menjanjikan jumlah hari tanpa konfirmasi. Buat daftar tenant beserta status pendaftaran dan PIC. Booth baru boleh dinyatakan siap setelah QR aktif, nama merchant benar, transaksi uji terverifikasi, dan laporan dapat ditelusuri sesuai skema event.

Apa yang dilakukan jika koneksi venue tidak stabil?

Siapkan koneksi cadangan yang telah diuji di lokasi booth, daya perangkat, PIC bantuan, dan metode alternatif yang memang diterima tenant. Perangkat EDC juga bergantung pada kemampuan layanan dan koneksinya; bukan jaminan transaksi berjalan offline. Jika ada transaksi pending, telusuri transaksi itu sebelum mencoba pembayaran lain. Arahkan kasus ke meja bantuan agar antrean tertangani tanpa mengabaikan bukti atau risiko pembayaran ganda.

Bagaimana jika pengunjung sudah terdebit tetapi notifikasi booth belum muncul?

Periksa riwayat pada sistem merchant dan aplikasi pembayar, kemudian catat nominal, waktu, serta Reference ID bila tersedia. Tidak munculnya notifikasi belum membuktikan pembayaran gagal. Jangan langsung meminta pembayaran kedua atau menyatakan lunas hanya dari screenshot. PIC menghubungi kanal resmi PJP dan mengikuti SOP penyerahan barang event. Simpan catatan kasus serta petugas penanggung jawab agar penelusuran berlanjut saat shift berganti.

Bagaimana menentukan biaya QRIS untuk event?

Konfirmasikan kategori merchant, MDR yang berlaku, biaya layanan tambahan bila ada, dan jadwal pencairan kepada PJP sebelum event. Jangan menyamakan tarif satu tenant dengan seluruh booth atau menggunakan rentang tarif sebagai harga produk Ezeelink. Biaya merchant tidak dibebankan sebagai tambahan kepada pembeli. Simpan rincian biaya dalam perjanjian dan laporan tenant agar rekonsiliasi nominal kotor serta dana bersih dapat dijelaskan.

Kapan dana QRIS dicairkan kepada tenant?

Waktu pencairan mengikuti layanan PJP dan skema penerima dana yang disepakati. Transaksi berhasil tidak selalu berarti rekening tenant sudah menerima dana pada saat yang sama. Dalam skema terpusat, pembagian dana oleh penyelenggara juga perlu dijadwalkan dan dicatat. Untuk event multi-hari, konfirmasikan kebutuhan arus kas sejak awal, lalu cocokkan laporan transaksi, biaya, serta laporan pencairan tiap tenant.

Baca juga

Ditulis oleh Tim Konten Ezeelink

Diperbarui: 24 Oktober 2026 | Sumber resmi diperiksa: 3 Oktober 2026

Konsultasi Kebutuhan Bisnis Anda Gratis
Dapatkan saran personalisasi untuk kebutuhan bisnis Anda

About Tim Konten Ezeelink

Tim Konten Ezeelink adalah tim penulis yang berspesialisasi dalam edukasi pembayaran digital, QRIS, dan solusi fintech untuk UMKM di Indonesia. Konten ditulis berdasarkan pengalaman langsung dalam ekosistem pembayaran digital nasional.